Terima kasih kepada teman-teman yang telah berpartisipasi atas terselenggaranya Reuni Patbhe-1979 tahun 2009, terima kasih pula kepada teman-teman yang belum berkesempatan datang atas do'a kalian sehingga acara dapat berjalan dengan lancarBlog ini dimaksudkan sebagai sarana untuk "ngumpulne balung pisah" diantara alumni SMA 4Bhe Yogyakarta yang masuk tahun 1976 dan atau yang lulus tahun 1979

Minggu, Maret 08, 2009

10 Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Oleh
Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk menghianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar'i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya" [An-Nisa : 58]

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui" [Al-Anfal : 27]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya" [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

"Artinya : Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga bagianya" [HR Al-Bukhari]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.

Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.

Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak
suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakan muru'ah (harga diri) dan kebenaran.

[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang
Masih Kecil

Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa'udzubillah mindzalik

[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.

[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo'a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia.

Wallahu a'lam bish-shawab

[Disadur oleh Ummu Shofia dari kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad, Al-Mazhahir Subulul Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/20004M, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton, Gondangrejo – Solo]

Minggu, Maret 01, 2009

Anjangsana Ke Rumah Bapak Mawardi Rahimin

Bak gayung bersambut, tulisan mengenai kondisi Pak Mawardi telah direspon teman-teman yang berdomisili di Yogya dengan cepat. Berikut ini cerita Nyi Lurah Wahyuni dengan gaya bertutur :

Hari Sabtu, tgl 28 Feb 2009 Jam 16.00 saya ber-empat ( Yuni, Iding, Tomeng, Yulia ) sowan ke P.Mawardi Rahimin. Waktu itu cuaca Yogya memang sedang udan derees pathes. Sebetulnya yang mau ikut banyak, ada Rio, Elza, Dyah, Fita, Dwi Fatmaningrum, Tiwi, tapi pada jam yang sudah ditentukan beliau-beliau ini pamit karena ada keperluan. Singkat cerita, Pak Mawardi, sekarang tinggalnya di Karangwaru ( ternyata rumah beliau berdampingan dengan tembok belakang SMA N 4 Karangwaru). Kami bertiga berangkat jam 15.45, hujan deras...tapi cuma sebentar...sampai rumah beliau hujan sudah agak reda...kami berpayung bertiga. Hue..he he...sampai rumah beliau sudah ada Yulia. Waktu itu Pak Mawardi duduk di kursi roda, menangis melihat kedatangan kami, beliau didampingi bu Mawardi. Secara fisik beliau memang sudah lemah karena stroke yang menahun, tapi wajahnya bersih, menunjukkan ke ikhlasan dan kesabaran menerima penyakit yang dideritanya. Pakaiannya juga rapih, pakai kaos putih, sarung juga bersih, rambut tersisir rapi.Daya ingatnya masih lumayan bagus meskipun kadang-kadang masih minta di-"iya"-kan di-"yakin"-kan.

Betapa beliau masih ingat teman-teman guru, tempat-tempat dimana beliau mengajar. Peristiwa Merapi tahun 1977 yang menimpa teman-teman kita pun beliau masih ingat. Beliau juga ingat pernah melarang rambut gondrong di sekolah kemudian di demo, dan lain-lain. Kami ber-empat ditanya satu persatu, kerja dimana dan lain lain. Pada saat saya cerita kalau suami saya juga murid beliau sudah mendahului kita, beliau langsung mengucapkan Innalillaahi wa inna 'ilayhi roojiuun dan langsung menasehati saya,..wah jadi terenyuh aku. Pak Mawardi ditemani seorang perawat laki-laki yang setia mendampinginya, diambil dari sebuah yayasan dan tugasnya menyiapkan segala keperluan beliau.

Kesehariannya beliau teratur makan, tidak ada diet, tidur juga cukup, tidak gelisah. Begitu mendengar suara Adzan langsung minta Sholat, tapi kadang lupa gerakan dan doa-doanya, juga hitungan rokaatnya yang dikerjakan udah berapa rokaat, sehingga kadang-kadang langsung salam padahal belum genap.Tapi Allah Maha Besar memberi kemudahan hambanya .

Beliau pingin diundang kalau kita ngadain Reuni, kepingin ketemu murid-muridnya. Kemarin aku inisiatip telpun rekan-rekan, Barjono, Osso, Edi, Dyah, Basuki, dll, ternyata konco-konco ora disumet kabeh HP-ne. Tapi tidak berapa lama kemudian akhirnya Q-Lur telpun balik. Pak Mawardi saya aturi nerima telponnya...Njut ngendiko opo Jon ? Beliau dan Ibu cerita kalau biaya pengobatan mahal, uang pensiun habis katanya, sebulan minimal 1 juta rupiah untuk obat, belum yang lain-lain, misalnya perawat. Kemarin Iding mau mencarikan upaya agar mendapat obat yang agak murah.

Kebetulan Tomeng bawa kamera, kita sempat foto bersama, beliau seneng banget, katanya mau dipasang di dinding.Kalau anak-cucu datang juga seneng banget.

Jam 17.10 kami berpamitan pulang, Alhamdulillah kita masih ada dana dari kas untuk sekedar membantu pengobatan beliau. Dari kas 1 juta digabung donasi dari Edi Susilo 3 juta jadi 4 juta kami haturkan semua, beliau beserta ibu menerima dengan senang hati dan malahan menangis haru. Beliau mengantar kami sampai depan pintu rumah sambil melambaikan tangan.

Seberat apapun sakit bapak, asalkan diterima dengan ridho (ikhlas dan sabar), niscaya akan membuahkan kecintaan yang besar dari Sang Pengatur Alam Semesta. Kalai kita ridho (dengan segala cobaan-Nya), Allah SWT-pun akan ridho kepada kita. Semoga bapak mendapat kesembuhan dari-Nya. Amin..Ya Rabbal Alamin

Jumat, Februari 27, 2009

Untuk Bapak Mawardi Rahimin


Engkau sosok yang tegar
Setegar gunung yang di terpa angin
Sebilah pedang samurai yang tertancap di medan perang
Belum dapat menandingi katabahan diri

Engkau adalah guruku
Idola yang memberikan arti di kehidupanku
Menambah semangat juangku
Mengajari aku agar lebih tahu sesuatu
Membimbingku agar dapat meraih impianku

Sekarang...
Di hari tuamu engkau hanya duduk
Duduk menunggu murid-muridmu menjengukmu
Murid-murid yang dulu engkau tuntun
Masihkah mereka mengingat dirimu...

Engkau sekarang masih seperti dulu
Tabah manghadapi kehidupan dirimu
Walau engkau tidak seprofesi dulu...
Engkau tetap guru-ku...
Murid-muridmu merindukanmu...
Dan mendoakanmu selalu....
Masih ingatkah kita dengan Bapak Drs.Mawardi Rahimin...? Sosok kepala sekolah yang mendidik kita dengan disiplin yang tinggi, tegas, bijaksana, santun dan sabar menasehati walaupun se-"ndhugal" apapun anak didiknya. Beliau sekarang terbaring tak berdaya karena sakit (stroke ...??). Di sinilah naluri kepedulian dan kesalehan sosial kita diuji lagi oleh Allah SWT. Beberapa waktu yang lalu kita sudah cukup berhasil melewati ujian kesetiakawanan/persahabatan kita dalam menyikapi ujian yang menimpa istri salah seorang teman kita.

Bagaimana kita harus berbuat untuk guru-guru kita yang saat ini terbaring sakit, atau dalam kondisi ketidakmampuan yang lain...? Berkat didikan guru-guru kita dan atas ridho Allah SWT-lah kita bisa menjadi sosok seperti sekarang ini,... ada yang menjadi dokter, pejabat, pengusaha dan sebagainya. Barangkali, ...kalau nanti di akherat, kita akan ditanya oleh Allah SWT : "Ada di mana kamu ketika guru-guru kamu terbaring tidak berdaya di sepanjang sisa hidupnya karena sakit...??"

"Allahumma rabban naasi adzhibil ba'sa asyfi antasy syaafii laa syifaa'a illaa syifaa'uka syifaa'an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba'sa rabban naasi biyadikasy syifaa'u, laa aasyifa lahu illaa anta, as'alullaahal 'azhiima, rabbal ' arsyil 'azhiimi an-yasfiyaka."

Artinya : Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran / penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya pada-Mu-lah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya 'Arasy Yang Agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

Teman-teman...!!!, mari kita segera berbuat, sebelum terlambat..!!!

Bravo Patbhe-1979

Minggu, Februari 22, 2009

Nostalgia : menelusuri bekas sekolah kita

Tidak terasa sudah hampir 30 tahun kita meninggalkan SMA 4 Bhe Yogyakarta, yang dulu terletak di Jl.Yos Sudarso No.7, waktu itu kampusnya masih jadi satu dengan SMA 3 Bhe Yogyakarta. Bagi teman-teman yang sejak lulus SMA sampai sekarang masih berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya, atau yang anaknya sekolah di SMA 3 Bhe, barangkali sosok bangunan berarsitektur jadul itu sudah terlalu biasa untuk dilihat-lihat. Tapi bagi yang berdomisili jauh di luar kota dan jarang pulang ke Yogyakarta, ada kesan tersendiri ketika menatap bangunan bekas sekolahnya dulu. Selama 3 tahun kita menempati gedung yang sama dengan SMA 3Bhe di Jl.Yos Sudarso No.7, dan kurang lebih 6 bulan di gedung baru Jl.Magelang, Karangwaru. Kesan yang mendalam tentunya ketika di kampus lama, walaupun masuk sekolah siang dan harus bergantian ruangan dengan SMA 3 Bhe. Sedangkan di kampus baru, waktu itu kondisinya masih ½ jadi dan hanya dipakai untuk pendalaman materi pelajaran guna mengisi kekosongan waktu ketika ada pengunduran tahun ajaran baru selama 6 bulan.

Mari kita menelusuri relung-relung bekas sekolah kita di kampus lama.


Gambar 1 : ini adalah tampak muka gedung sekolah kampus lama (Jl.Yos Sudarso No.7) dan kampus baru (Jl.Magelang, Karangwaru). Tidak ada perubahan sama sekali pada bangunan induk kampus lama, hanya pagar depan saja yang sekarang sudah diganti dengan board name SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Gambar 2 : pintu masuk menuju aula serbaguna, difoto dari arah barat. Di sebelah barat aula ini terletak kelas IA, IB dan IC, sedangkan disebelah timur terletak kelas ID dan IE. Setelah penjurusan pada akhir Semester I, kelas IA dan IB untuk IPS, sedangkan kelas IC, ID dan IE untuk jurusan IPA.

Gambar 3 : aula serbaguna, 2 set kursi tamu berwarna putih itu masih seperti yang dulu, tidak berubah sama sekali (mungkin hanya digonta-ganti kulitnya saja ya…!!). Deretan rak-rak berisi piala juga masih seperti dulu. Waktu itu aula ini dipakai untuk acara-acara tertentu seperti peringatan hari Kartini dan hari-hari besar nasional lainnya, terakhir kali semasa kita dipakai acara WISUDA PURNA SISWA untuk siswa-siswi yang lulus dari Kelas III. Ketika itu sebagai Juara I IPA adalah Edi Susilo, sedangkan Juara I IPS dipegang oleh Rio Kustianto (wahhh…, selamat yo..…!!, sekarang mereka sama-sama sukses di bidang masing-masing !!, ehh….ehh…. kalau Bu Lurah dan Pak Lurah entuk ranking piro yo, lali aku….!!!, ra penting ranking piro sing penting saiki happy…!!!).

Gambar 4 : halaman upacara, di sini tempat upacara yang dulu diselenggarakan tiap hari Senin. Upacara biasanya dipimpin oleh Kepala Sekolah, Bapak Drs.Mawardi Rahimin, sedangkan petugas upacara (komandan, pembawa acara, pengerek bendera, pembaca teks Panca Sila) gonta-ganti antar kelas. Hal yang menjadi ciri khas dalam setiap upacara adalah suara pembawa acara ketika membacakan acara terakhir yaitu : “PENGUMUNAN-PENGUMUMAN DARI BAPAK MASHADI”, yang diucapkan menjelang upacara berakhir. (teman-teman,….masih ingat nggak ??!!).

Gambar 5 : halaman sekolah, sekarang sudah tertata apik, rindang dan sudah di-paving lagi, ada taman-taman dengan gemericik air mancur. Di tempat ini pula, dulu menjadi semacam killing field bagi siswa pria yang bajunya tidak dimasukkan dan ketahuan sama Kepala Sekolah sehingga terpaksa “ditangkap” dan dinasehati perihal aturan sekolah itu (sssst...., buka rahasia nich..!!, Basuki dan Pak Lurah termasuk yang sudah pernah “ditangkap” lho..!!, bolak-balik lagi..!!).

Gambar 6 : laboratorium fisika, deretan meja-meja hexagonal masih seperti dulu. Gedung laboratorium fisika ini terletak di sisi timur halaman sekolah, laboratorium biologi terletak di sisi sebelah barat, sedangkan laboratorium kimia ada di gedung/bangunan lama di bagian timur (dekat kelas III E).

Gambar 7 : sasana olah raga, praktek mata pelajaran olah raga yang sifatnya bisa dilakukan secara indoor diberikan di sini. Jeruji-jeruji kayu di sisi kiri dan kanan masih seperti dulu, di belakang tampak 3 set box bertumpuk dan matras dari sabut kelapa (babut). Bagi teman-teman wanita yang dulu suka memakai pakaian olah raga ekstra ketat (terutama celana) pasti punya cerita lucu ketika Pak Sunarto atau Pak Mashadi menyuruh semua siswa-siswi berjumpalitan di matras, melompati box bertumpuk yang disusun semakin tinggi, atau bergelantungan di jeruji kayu.


Gambar 8 : lapangan olahraga outdoor, terletak di sebelah barat sekolah. Di sini dulu tempat praktek olahraga lompat jauh, lempar lembing/martil, sepakbola, volley ball dan softball (yang ini jagonya Abdulrahman dan Osso’ bro…!!), termasuk untuk event-event seperti class meeting juga dilakukan di sini.


Gambar 9 : tempat parkir sepeda motor. Dulu ada 2 tempat parkir, yaitu di bagian barat (tepatnya sebelah barat kantor TU) dan di bagian timur (berseberangan dengan gedung Telkom). Motor-motor legendaris yang sudah pernah diparkir di sini diantaranya Kawasaki trail warna kuning punya Steve Ary dan Yamaha bebek warna merah (breakless motorcycle) punya Dyah (he..he.he.., sekarang masih ada nggak ya bangkainya ??).

Itulah teman-teman, sekilas mengenai bekas sekolah kita, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pembangkit ingatan lama dimana pengalaman suka duka ketika SMA dulu merupakan bagian dari sejarah hidup kita.

(Foto-foto dipinjam dari http://sma3jogja.com/)


Kampus lama




Kampus baru



Senin, Februari 16, 2009

Dokumentasi Ulang Tahun FPI (Fita, Pratiwi, Iding)

Tanggal 31 Januari 2009 yang lalu, Fita, Pratiwi dan Iding mengadakan acara bersama dalam rangka mensyukuri nikmat Allah SWT, karena dengan bertambahnya umur (eiiittt..!! jangan lupa..., sekaligus berkurangnya umur 1 tahun juga lho...!!), mereka masih dikaruniai kesehatan, kekuatan dan limpahan nikmat lainnya.

Yang bertindak selaku EO (sEneng repOt) dalam acara ini siapa lagi kalau bukan Wahyuni, Nyai Lurah sekaligus wanita KARIR (KAkehan wiRa wIRi) yang satu ini dikenal entengan tangan ngurusin konco-konco Patbhe-1979.

Hadir dalam acara itu : Fita, Pratiwi, Iding, Wahyuni, Dyah, Tomeng, Rio, Imun, Hendi, Empu, Sri Miyati, Iwan Subroto, Elza "TRENGGINAS" Ismail, Maryanto, Dwi Fatmaningrum dan Lusi.
Selamat untuk FPI, Bravo Patbhe-1979...!!!!!

[1]. Untuk mengetahui judul foto, letakkan kursor di atas foto bersangkutan [2]. Untuk memperlambat, menghentikan atau mempercepat slideshow, klik icon masing-masing bertanda (-),() atau (+) pada bagian kiri bawah slideshow

Sabtu, Februari 14, 2009

Wedang Uwuh

Bermula dari “iming-iming” Iding (dr.Setyo Wandito SpA) di shoutbox kepada Wahyuni dan Tomeng (Sumaryono) untuk nyoba wedang uwuh (selanjutnya disingkat WU saja yach..!!), tim redaksi blog Patbhe-1979 merasa perlu untuk menurunkan tulisan mengenai WU. Soalnya apa ? Kita yakin banyak teman-teman yang sejak selesai kuliah di Yogya terus merantau ke luar, banyak yang belum tahu apa itu WU (he..he..he.., tentunya termasuk Lurahe BLOG). Waktu sekolah dulu memang sama sekali belum nyoba atau bahkan belum dengar yang namanya WU, yang aslinya dari Imogiri, tempat makam raja-raja Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat.

Asal-Usul

Wedang berarti minuman, Uwuh berarti sampah….!!. Jadi, kalau diterjemahkan secara letterlijk, berarti minuman sampah. Secara visual mungkin benar karena WU berbahan baku dari bermacam-macam tumbuhan yang dicampur dalam satu seduhan. Secara substansial berbeda dengan makanan yang dikategorikan junk-food (makanan sampah, suatu pengkategorian untuk makanan cepat saji ala Amrik) karena WU ini bisa dikategorikan sebagai minuman yang justru menyehatkan badan, berbeda dengan junk-food.

Konon, WU berasal sejak dari jaman Sultan Agung. Ketika itu, baginda Sultan Agung bersama-sama para punggawanya sedang mencari lokasi makam yang pas untuk keluarga kerajaan. Setelah mencari beberapa alternatif, terpilihlah Bukit Merak di Imogiri sebagai lokasi makam. Penetapan lokasi ini dilakukan setelah Sultan Agung melakukan semacam khalwat (nenepi) dalam waktu cukup lama, untuk mohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Pada suatu hari Sultan Agung memerintahkan seorang abdi dalem untuk membuatkan minuman yang dapat menghangatkan badannya dari terpaan hawa dingin Bukit Merak. Abdi dalem tersebut akhirnya membuat minuman berbahan dasar tumbuhan secang (wedang secang) dan menyajikannya dalam sebuah gelas, serta meletakkannya di sebuah meja kecil. Sementara itu, Sultan Agung masih terus melakukan khalwat-nya di bawah pepohonan. Karena terpaan angin di Bukit Merak yang kencang malam itu, beberapa ranting dan daun dari bermacam-macam pepohonan di situ secara kebetulan jatuh ke dalam gelas. Beberapa saat kemudian, Sultan Agung mendatangi gelas yang berisi wedang secang. Karena malam itu sangat gelap gulita, beliau tidak menyadari kalau gelas wedang secang sudah tercampur dengan daun dan ranting yang berguguran diterpa angin malam….. akhirnya beliau meminumnya. Pagi harinya, Sultan Agung memanggil abdi dalemnya dan mengatakan bahwa wedang secangnya jauh lebih enak, lebih menghangatkan badan dan berkhasiat dibandingkan wedang secang yang biasanya dibuat. Abdi dalem akhirnya mengetahui, tumbuhan apa saja yang telah masuk ke dalam gelas sehingga membuat minumannya lebih enak dan berkhasiat.

Barangkali dari peristiwa itulah asal mulanya konsep minuman yang berasal dari bermacam-macam tumbuhan yang mengilhami istilah WU.

Campuran dan Khasiat
Minuman khas Imogiri ini memang tidak ada duanya, di daerah lain barangkali tidak akan menemukannya. Soalnya minuman ini terdiri dari campuran rempah-rempah dalam satu ramuannya : daun pala, daun kayu manis, daun cengkeh, batang cengkeh, jahe, secang dan gula batu. Berbagai macam rempah-rempah itu kemudian diseduh dengan air panas dan disajikan dalam porsi satu gelas. Karena penyajiannya itulah maka minuman ini dinamakan WU. Resep yang dibuat turun temurun ini dahulu dinamakan wedang jahe cengkeh.

Khasiat minuman ini diantaranya : menyembuhkan batuk ringan, pegal-pegal, perut kembung dan masuk angin. Mengenai rasanya, hampir mirip sekoteng namun aroma rempah-rempahnya lebih terasa. Tampilan WU ini cukup menarik, berwarna merah muda alami yang didapat dari seduhan tumbuhan secang.

WU banyak dijual di warung-warung sepanjang jalan menuju makam raja-raja di Imogiri (ada sekitar 20 warung). Harga per porsi jika diminum di tempat sekitar Rp. 1500 , kalau dalam kemasan dijual seharga Rp. 1000 (seribu perak saja !!). Kalau ingin membeli dalam kemasan dan menyeduh sendiri, semua bahan (kecuali gula batu tentunya), harus dicuci lebih dahulu. Setelah diseduh dengan air panas, diaduk pelan-pelan saja supaya gula batu tidak mencair sekaligus sehingga bisa diseduh/ditambah air panas sampai tiga kali. Waktu paling tepat menikmati WU adalah ketika cuaca dingin, misalnya malam atau pagi hari.

Letak Imogiri beserta warung-warung yang menjual WU dan makam raja-raja Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat dalam Wikimapia dapat dilihat disini.

Kalau mau pesan WU dalam kemasan, bisa menghubungi : (sorry…, ini
bukan iklan lho..!!)

Ibu Puji Lestari/Bambang Sugiharyono
Alamat : Pajimatan, Girirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta 55782
No HP : 0274-9290850/0813-28014763

Mbak Purwanti
No. HP : 0878-38268542

Mbah Sudi
No. HP : 0818-02705771

Ramuan WU dalam kemasan

Memasukkan ramuan WU dalam kemasan

Kamis, Februari 05, 2009

Gudeg Pawon


Gudeg….??? Ya, itulah salah satu ciri khas kuliner kota Yogya yang paling tua. Banyak warung gudeg bertebaran di seantero kota Yogya dan sekitarnya, dimulai dari Yogya sebelah utara di dekat kampus UGM (gudeg “Yu Djum”, Bu Ahmad dll) sampai ke selatan, yang tersohor adalah gudeg Wijilan di sebelatan plengkung Wijilan (Jl.Wijilan). Di jantung kota, seperti dekat pasar Kranggan ada gudeg Juminten yang cukup tua usianya. Lalu ke arah Solo dekat bandara Adisucipto ada gudeg Bu Tjitro yang penyajiannya lebih “elit”. Rata-rata warung gudheg menyajikan konsep penjualan yang tidak jauh beda dengan jenis makanan lain, yaitu dimakan di tempat atau dibungkus di bawa pulang. Tempat usahapun sama, berbentuk warung/rumah makan dengan meja kursi ataupun lesehan, baik indoor atau outdoor (di trotoar jalan).

Lantas, apa keunikan Gudeg Pawon ? Apa bedanya dengan yang lain ?
Di dalam ilmu marketing, ada istilah diferensiasi, baik diferensiasi produk, pelayanan penjualan dan lain-lain. Gudeg Pawon memilih diferensiasi pelayanan penjualan sebagai ciri khasnya.

Pertama, ini ciri yang paling utama sesuai dengan namanya “Gudeg Pawon”, sambil duduk di kursi plastik/lincak bambu seadanya maupun berdiri, pengunjung dapat menyantap hidangan di dalam dapur (jawa=”pawon”) sekaligus melihat-lihat aktivitas mbah-mbah melayani pengunjung atau memasak dengan tungku berbahan bakar kayu. Kalau pengunjung merasa pengap dengan asap tungku, bisa keluar dan duduk di kursi yang disediakan. Kebersihan “pawon”-pun cukup terjaga dengan baik, untuk ukuran dapur masak di kampung masih cukup rapi walaupun dinding dapur berwarna agak kusam akibat asap tungku. Nuansa “pawon” jadi begitu semakin terasa ketika kita menengadah ke atap tanpa langit-langit/plafon, jelaga asap tungku berwarna hitam menempel pada kuda-kuda plafon. Tungku memasak maupun “dandang” dan kukusannyapun bergaya klasik tempoe doeloe. Barangkali karena bukanya malam hari dan pencahayaan di dalam pawon hanya secukupnya saja, kesan pawon yang kusam bisa dikurangi.

Ada cerita unik mengapa dinamakan “Gudeg Pawon”. Konon penjual gudeg sejak tahun 1958 ini dulunya adalah penjual gudeg keliling. Karena rasanya yang sangat lezat, para pembeli tidak sabar menanti lewatnya penjual gudeg keliling ini, sehingga akhirnya mereka langsung mendatangi dapur tempat pembuatannya untuk membeli gudeg secara langsung. Kebiasaan itulah yang akhirnya mengilhami nama “Gudeg pawon” sampai sekarang.

Kedua, Gudeg Pawon merupakan salah satu kuliner dini hari karena buka mulai jam 23.30 sampai jam 05.00 pagi. Tetapi seringkali jam 01.00 pilihan menunya sudah tidak komplit lagi (kadang-kadang daging ayam atau sambal goreng krecek sudah habis, tinggal telur ayam saja).

Ketiga, lokasi, posisi warung Gudeg Pawon boleh dibilang masuk gang kecil, kira-kira masuk sejauh 20 meter dari jalan kampung (Jl.Janturan), secara umum mudah terjangkau walaupun agak tersembunyi. Tidak ada satupun papan nama di pinggir jalan kampung, satu-satunya tanda adalah deretan kendaraan roda 4 dan roda 2 yang diparkir di pinggir jalan kampung (Jl.Janturan). Ancar-ancarnya, dari Jl. Kusumanegara pada pertigaan di depan Toserba Pamela belok ke selatan (Jl.Janturan), setelah melewati kampus Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY, Kampus 3) dan sebelum Universitas Ahmad Dahlan (UAD), maka anda akan menemukan sebuah gang kecil yang di depannya banyak diparkir kendaraan.
Untuk teman-teman patbhe-1979 dan keluarga, kalau mau mencoba Gudeg Pawon bisa kontak dulu ke Wahyuni, kebetulan lokasinya dekat rumahnya,...dan dengan senang hati dia mau koq jadi guide....he..he..he...!!
Harganya ……??? Woooow lumayan murah, silahkan dicoba sendiri…, Rp 50ribuan untuk empat orang masih ada uang kembaliannya koq !!

Warga patbhe-1979 (Wahyuni, Barjono, Toni Rifiyanto dan Dyah) sekitar awal Desember 2008 yang lalu sempat mampir ke Gudeg Pawon. Komentarnya…??? mak nyuusss tenan……!!!!. Karena keunikan dan cita rasanya yang khas, tidak heran kalau Pak Bondan Winarno juga pernah ke sini.

Peta lokasi menuju Gudeg Pawon (kalau mau lihat yang lebih jelas, bisa lihat dengan foto satelit dari Google Map, klik disini , posisi Gudeg Pawon di tengah-tengah bidang foto satelit dengan tanda [+]).


Pintu masuk menuju pawon (dapur) terlihat dari luar

Kalau mau makan, antri dulu.....!!!

Informasi jam buka warung, tergantung seadanya di dinding pawon bagian luar.

Suasana di dalam pawon :

Langit-langit berwarna hitam karena asap dari tungku pembakaran

Papan peringatan kewaspadaan yang ditempel di dinding luar pawon, dulunya diperuntukkan bagi pengunjung yang datang siang hari. Sekarang ini, karena bukanya menjelang dinihari dan lokasi parkir sudah ada tukang parkir, papan peringatan ini sudah tidak ada fungsinya.